Tak terasa sudah 45 hari
Sudah banyak cerita, fenomena, teman, makanan, pernak-pernik, kerjaan, oleh-oleh, penyakit, kesenangan, yang lucu-lucu, yang sedih sedih, yang senangsenag, pertemuan, persahabatan, keindahan, perpisahan dan segudang pengalaman baik lahir, batin, semu, nyata dan sebaginya
So...how would be another half way?
Time for a little contemplation of what i've been through, to give me another spirit of what will be a head to get through
so many changes
so many colours
so many memories
But i suppose not to stick with the past and i should not be worried with the future
just get it through with a smile on your face today..to seize the day
Monday, December 15, 2008
Friday, October 31, 2008
Banjir di Hanoi
Jalan Lang Ha jam 08:05 terasa seperti mau maghrib, gelap

This is what is called “dedication to education”

Hiks..moga ga menimpa teman teman sekalian

Rekan Julie berjuang dalam hujan
Pagi ini jejak langkah saya berlangsung dari hotel ke KBRI disertai guyuran hujan yang cukup lebat. Bahkan samapai sore hari ini masih lebat.
Ini adalah hari pertama saya di Hanoi setelah kemarin siang tiba dari Indonesia. Bangga rasanya berjalan menyusuri 4 blok diiringi beberapa tatapan mata aneh melihat gadis berbaju motif batik dan berkerudung di sebuah negara sosialis. Bangga juga menggunakan bahasa Indonesia di negeri orang walaupun sebenarnya hanya itu Bahasa yang paling nyaman saya pakai disini untuk berkomunikasi mengingat orang Hanoi tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris. Akhirnya saya memilih ngobrol saja dengan sesama teman Indonesia. Sungguh perasaan-perasaan yang jarang saya rasakan tatkala di rumah sendiri. Bahkan saat di perjalanan bangga juga saat membawakan kerajinan tangan dan batik (bukan kain bermotif batik--> suka diprotes soalnya oleh teman-teman pecinta batik) dan menyerahkannya kepada Bapak Duta Besar. Sengaja tas kertas bermotif batik itu saya tenteng dan ternyata beberapa nona-nona berambut pirang di penerbangan Singapura-Hanoi cukup antusias memandanginya. Bahkan Bapak-bapak sebelah dari USA sempat mengatakan "nice pattern"...senang juga deh jadinya.
"Menjadi Indonesia."
Sebuah proses yang selama ini tak pernah saya nikmati lika-likunya sampai saya masuk pada sebuah instansi dan akhirnya harus menjadi bagian dari perwakilan Indonesia di luar negeri. Luar biasa, karena saya tak pernah menangis saat menyanyikan lagu Bagimu Negeri kecuali saat bulan kemarin mengikuti acara penutupan Sekolah Dinas Luar Negeri sekaligus pelepasan untuk magang. Jarang saya merasa memiliki Indonesia dari sabang sampai merauke sampai saya melihat foto-foto kepulauan di Riau yang gundul, habis, bahkan nyaris hilang tenggelam karena habis pasirnya serta tanah Kalimantan dan Papua yang tergerus oleh MNC-MNC kenamaan. Jarang pula saya sedemikian antusias mencari tahu berbagai musik tradisional, makanan tradisional, serta pernik-pernik kekayaan budaya Indonesia sampai pada saat saya harus menampilkannya dihadapan orang selain Indonesia. Saya sedikit sedih dan kecewa dengan proses belajar saya selama ini. Kemana Indonesia saya yang seharusnya sudah melekat bersama saya sedari 0 tahun?
Ya..ternyata saya belum cukup menjadi Indonesia seutuhnya.
Saat beberapa waktu lalu menonton Denias dan Laskar Pelangi baru saya miris. Betapa anak Indonesia banyak yang kehilangan jati dirinya. Bagaimana bangsa ini bisa eksis kalau tidak kenal siapa dirinya. Begitu jauh mereka mengenal makna sumpah pemuda. Pelajaran sejarah hanyalah pelajaran data dan kurang menyentuh masalah perasaan dan empati. Padahal sebuah kisah diceritakan bukan untuk mengasah aspek kognitif saja melainkan lebih pada sisi rasa manusia. Seni, sastra Indonesia telah kehilangan tajinya. Sempat gemes waktu Effendi Siregar menunjukkan foto-foto hasil jepretannya untuk buku Centhini Story. Tidak ada penerbit dan pejabat yang mendukung langsung penerbitannya sehingga harus dalam bahasa Inggris oleh penerbit berlabel bahasa Inggris. Sebagai orang jawa saya merasa tercabik-cabik. Kok ya sampai nggak pernah baca...jangankan baca kenal saja tidak. Dimana lubang hitamnya hingga saya jauh dari akar budaya saya. Apa ya karena saking cueknya saya? Tapi sejak SD memang tidak ada itu serat centhini masuk dalam pelajaran apapun. Padahal dari cerita pak Siregar sungguh, peta jawa lebih lengkap tergambar disana. pelajaran etika banyak disentuh, politik juga diubeg-ubeg bahkan kamasutra hanyalah sebagian kecil dari isinya.
Akhirnya, daripada makan hati memikirkan mata rantai yang putus saya mencoba menyusun kembali puzzle ke-Indonesiaan saya. Saya awali dari merasa bahwa saya memang orang Indonesia dan menggetarkan hati saya saat membaca KTP atau pasport kalau saya memang bernaung di langit Indonesia serta tumbuh dengan tanah dan airnya Indonesia (secara makan duit rakyat ya hiks..hiks..enakan jadi wirausahawan lagi klo begini..beban hati). Langkah selanjutnya coba saya bangun adalah merasa memiliki Indonesia, karena dengan itu saya berusaha mencintai dan menjaga apa yang saya miliki. Tak lagi gagap saat harus memakai songket atau tenunan, tak merasa katrok saat bawakan lagu daerah dan tidak lagi gerah menonton TVRI hehe..tapi di Hanoi gak ada sayangnya. Yang tak kalah penting adalah bahwa tanah yang saya injak kemaren tanah saya dan harus dijaga pelestariannya. Kenapa para penghuni kolong jembatan dan pinggiran kali rajin mencemari jalanan atau sungai-sungai bisajadi karena mereka tak pernah dikenalkan dengan perasaan "MEMILIKI" cuma numpang tanah milik negara..padahal UUD nya menyebutkan Negara bertanggungjawab mengelola untuk kepentingan rakyat.
Adanya juga kebalik-balik.
Pun, teman teman di asrama kadangkala cuek saja membiarkan tanaman-tanaman kering. Tak lain karena merasa tidak memiliki (ada tukang kebun katanya). Sebagian kurang menyadari bahwa makhluk-makhluk lain ada tersedia bagi manusia sebagai khalifahnya untuk dicintai, dimiliki, saling berbagi sehingga tercipta harmoni eksistensi. “Cintailah yang di bumi maka yang di langit mencintaimu”…seperti itu kira-kira.
Pada akhirnya hubungan manusia dengan makhluk lain sebatas hanya pada interaksi kaku bukan kegiatan saling mencinta yang disana ada energi luar biasa untuk menjalin sebuah sinergi bagi keberlangsungan semesta. Tercipta jarak antara rakyat dan negara, antara si miskin dan si kaya, antara diriku dan dirinya..apalagi mereka (yang tinggal di hutan-hutan cemara).
Terlepas dari semua cerita diatas, ternyata sebuah identitas tetap diperlukan saat dunia semakin tanpa batas. Sebuah tempat yang disebut "hometown" terasa manis terkenang saat jauh. Apabila dulu seringkali hanya bisa melihat sisi gelap bayangan bangsa sendiri..dengan adanya jarak fokus saya mencoba menatap dengan lebih obyektif bahwa negara kita adalah negara normal "plus masalah, plus prestasi, plus manusia-manusia potensial yang hanya butuh diasah kesadaran eksistensialnya" ..jadi terinspirasi kata-kata SBY "Kita Bisa" Apalagi melihat bangsa ini punya berbagai komunitas yang mungkin kecil tapi berserak seperti Jejak Langkah, saya yakin puzzle besar bernama Indonesia akan menjadi indah dipandang apabila makluk-makhluk di dalamnya bersama mengumandangkan "Aku Cinta Indonesia" (*jadi inget acara di TPRI jaman doeloe waktu tipinya masih pake aki).
At last..susah ternyata menjadi bagian dari Negara. Ya..saya bukan hanya sekedar bernegara Indonesia tetapi kebangsaan saya adalah Indonesia. Bahasa saya dan tanah air saya adalah Indonesia..Ia adalah rumah saya yang akan terindukan saat berjauhan.
thanks ya buat temen2 JL yang senantiasa membantu menggugah kesadaran saya akan berbagai penampakan di sekitar kita
Ini adalah hari pertama saya di Hanoi setelah kemarin siang tiba dari Indonesia. Bangga rasanya berjalan menyusuri 4 blok diiringi beberapa tatapan mata aneh melihat gadis berbaju motif batik dan berkerudung di sebuah negara sosialis. Bangga juga menggunakan bahasa Indonesia di negeri orang walaupun sebenarnya hanya itu Bahasa yang paling nyaman saya pakai disini untuk berkomunikasi mengingat orang Hanoi tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris. Akhirnya saya memilih ngobrol saja dengan sesama teman Indonesia. Sungguh perasaan-perasaan yang jarang saya rasakan tatkala di rumah sendiri. Bahkan saat di perjalanan bangga juga saat membawakan kerajinan tangan dan batik (bukan kain bermotif batik--> suka diprotes soalnya oleh teman-teman pecinta batik) dan menyerahkannya kepada Bapak Duta Besar. Sengaja tas kertas bermotif batik itu saya tenteng dan ternyata beberapa nona-nona berambut pirang di penerbangan Singapura-Hanoi cukup antusias memandanginya. Bahkan Bapak-bapak sebelah dari USA sempat mengatakan "nice pattern"...senang juga deh jadinya.
"Menjadi Indonesia."
Sebuah proses yang selama ini tak pernah saya nikmati lika-likunya sampai saya masuk pada sebuah instansi dan akhirnya harus menjadi bagian dari perwakilan Indonesia di luar negeri. Luar biasa, karena saya tak pernah menangis saat menyanyikan lagu Bagimu Negeri kecuali saat bulan kemarin mengikuti acara penutupan Sekolah Dinas Luar Negeri sekaligus pelepasan untuk magang. Jarang saya merasa memiliki Indonesia dari sabang sampai merauke sampai saya melihat foto-foto kepulauan di Riau yang gundul, habis, bahkan nyaris hilang tenggelam karena habis pasirnya serta tanah Kalimantan dan Papua yang tergerus oleh MNC-MNC kenamaan. Jarang pula saya sedemikian antusias mencari tahu berbagai musik tradisional, makanan tradisional, serta pernik-pernik kekayaan budaya Indonesia sampai pada saat saya harus menampilkannya dihadapan orang selain Indonesia. Saya sedikit sedih dan kecewa dengan proses belajar saya selama ini. Kemana Indonesia saya yang seharusnya sudah melekat bersama saya sedari 0 tahun?
Ya..ternyata saya belum cukup menjadi Indonesia seutuhnya.
Saat beberapa waktu lalu menonton Denias dan Laskar Pelangi baru saya miris. Betapa anak Indonesia banyak yang kehilangan jati dirinya. Bagaimana bangsa ini bisa eksis kalau tidak kenal siapa dirinya. Begitu jauh mereka mengenal makna sumpah pemuda. Pelajaran sejarah hanyalah pelajaran data dan kurang menyentuh masalah perasaan dan empati. Padahal sebuah kisah diceritakan bukan untuk mengasah aspek kognitif saja melainkan lebih pada sisi rasa manusia. Seni, sastra Indonesia telah kehilangan tajinya. Sempat gemes waktu Effendi Siregar menunjukkan foto-foto hasil jepretannya untuk buku Centhini Story. Tidak ada penerbit dan pejabat yang mendukung langsung penerbitannya sehingga harus dalam bahasa Inggris oleh penerbit berlabel bahasa Inggris. Sebagai orang jawa saya merasa tercabik-cabik. Kok ya sampai nggak pernah baca...jangankan baca kenal saja tidak. Dimana lubang hitamnya hingga saya jauh dari akar budaya saya. Apa ya karena saking cueknya saya? Tapi sejak SD memang tidak ada itu serat centhini masuk dalam pelajaran apapun. Padahal dari cerita pak Siregar sungguh, peta jawa lebih lengkap tergambar disana. pelajaran etika banyak disentuh, politik juga diubeg-ubeg bahkan kamasutra hanyalah sebagian kecil dari isinya.
Akhirnya, daripada makan hati memikirkan mata rantai yang putus saya mencoba menyusun kembali puzzle ke-Indonesiaan saya. Saya awali dari merasa bahwa saya memang orang Indonesia dan menggetarkan hati saya saat membaca KTP atau pasport kalau saya memang bernaung di langit Indonesia serta tumbuh dengan tanah dan airnya Indonesia (secara makan duit rakyat ya hiks..hiks..enakan jadi wirausahawan lagi klo begini..beban hati). Langkah selanjutnya coba saya bangun adalah merasa memiliki Indonesia, karena dengan itu saya berusaha mencintai dan menjaga apa yang saya miliki. Tak lagi gagap saat harus memakai songket atau tenunan, tak merasa katrok saat bawakan lagu daerah dan tidak lagi gerah menonton TVRI hehe..tapi di Hanoi gak ada sayangnya. Yang tak kalah penting adalah bahwa tanah yang saya injak kemaren tanah saya dan harus dijaga pelestariannya. Kenapa para penghuni kolong jembatan dan pinggiran kali rajin mencemari jalanan atau sungai-sungai bisajadi karena mereka tak pernah dikenalkan dengan perasaan "MEMILIKI" cuma numpang tanah milik negara..padahal UUD nya menyebutkan Negara bertanggungjawab mengelola untuk kepentingan rakyat.
Adanya juga kebalik-balik.
Pun, teman teman di asrama kadangkala cuek saja membiarkan tanaman-tanaman kering. Tak lain karena merasa tidak memiliki (ada tukang kebun katanya). Sebagian kurang menyadari bahwa makhluk-makhluk lain ada tersedia bagi manusia sebagai khalifahnya untuk dicintai, dimiliki, saling berbagi sehingga tercipta harmoni eksistensi. “Cintailah yang di bumi maka yang di langit mencintaimu”…seperti itu kira-kira.
Pada akhirnya hubungan manusia dengan makhluk lain sebatas hanya pada interaksi kaku bukan kegiatan saling mencinta yang disana ada energi luar biasa untuk menjalin sebuah sinergi bagi keberlangsungan semesta. Tercipta jarak antara rakyat dan negara, antara si miskin dan si kaya, antara diriku dan dirinya..apalagi mereka (yang tinggal di hutan-hutan cemara).
Terlepas dari semua cerita diatas, ternyata sebuah identitas tetap diperlukan saat dunia semakin tanpa batas. Sebuah tempat yang disebut "hometown" terasa manis terkenang saat jauh. Apabila dulu seringkali hanya bisa melihat sisi gelap bayangan bangsa sendiri..dengan adanya jarak fokus saya mencoba menatap dengan lebih obyektif bahwa negara kita adalah negara normal "plus masalah, plus prestasi, plus manusia-manusia potensial yang hanya butuh diasah kesadaran eksistensialnya" ..jadi terinspirasi kata-kata SBY "Kita Bisa" Apalagi melihat bangsa ini punya berbagai komunitas yang mungkin kecil tapi berserak seperti Jejak Langkah, saya yakin puzzle besar bernama Indonesia akan menjadi indah dipandang apabila makluk-makhluk di dalamnya bersama mengumandangkan "Aku Cinta Indonesia" (*jadi inget acara di TPRI jaman doeloe waktu tipinya masih pake aki).
At last..susah ternyata menjadi bagian dari Negara. Ya..saya bukan hanya sekedar bernegara Indonesia tetapi kebangsaan saya adalah Indonesia. Bahasa saya dan tanah air saya adalah Indonesia..Ia adalah rumah saya yang akan terindukan saat berjauhan.
thanks ya buat temen2 JL yang senantiasa membantu menggugah kesadaran saya akan berbagai penampakan di sekitar kita
Friday, October 24, 2008
Pelatihan Blogger bersama Loenpia dan JL
what a nice day
akhirnya bisa menikmati my last free day bersama Loenpia untuk secara resmi cari ilmu nge-blog.
Yup..yang namanya beramal mustinya emang cari ilmu dulu. Terbukti bila semua hanya mengalir blog ini hampir sekarat karena tak terawat dan tak pernah di update lagi...Well hope this day would be wonderful ...VIVA Blogger
akhirnya bisa menikmati my last free day bersama Loenpia untuk secara resmi cari ilmu nge-blog.
Yup..yang namanya beramal mustinya emang cari ilmu dulu. Terbukti bila semua hanya mengalir blog ini hampir sekarat karena tak terawat dan tak pernah di update lagi...Well hope this day would be wonderful ...VIVA Blogger
Saturday, October 11, 2008
Tuesday, December 04, 2007
Monday, August 13, 2007
harapKU
Secerca cahaya menyembul di balik kabut..menyisihkan semua dingin yang sebelumnya merasuk sampai ke tulang-tulang sendi.
Sebuah harap datang..dan tak lagi ku ingin pergi.
Robb..hanya pada Mu tempatku kembali
hanya kepada Mu ku mohonkan..ku gantungkan..kuimpikan kupasrahkan semua cita dan cinta..
Namun ampuni ku Ya Ghaffar..
saat semua ternyata masih tertahan dalam kemalasan dan keteledoran seorang insan.
Aku tak boleh gamang..aku tak boleh putus..aku tak boleh berhenti melangkah
Apapun bentuk pilihanku..itu harus jadi tanggungjawabku yang pada suatu ketika harus ku kembalikan semua padaMU
Robb sungguh..tiada dapat terungkap rasa syukur atas segala pemberianMu yang senantiasa indah..senantiasa menyejukkan dan semakin membuatku mencintai Mu..meski dengan cara paling sederhanaku..maafkan aku..ampuni aku yang lemah terbatas ini..yang tanpa sadar lalai mensyukuri dan senantiasa berlebih lebih dalam urusan yang harusnya dibatasi..
semoga Kau akhirkan aku dengan akhir yang baik..Kau jauhkan dari malu di dunia dan adzab di akhirat
Kuatkan kami umat muslim ya Alloh..tegakkan dien ini di dada kami..di atas bumi ini
Sebuah harap datang..dan tak lagi ku ingin pergi.
Robb..hanya pada Mu tempatku kembali
hanya kepada Mu ku mohonkan..ku gantungkan..kuimpikan kupasrahkan semua cita dan cinta..
Namun ampuni ku Ya Ghaffar..
saat semua ternyata masih tertahan dalam kemalasan dan keteledoran seorang insan.
Aku tak boleh gamang..aku tak boleh putus..aku tak boleh berhenti melangkah
Apapun bentuk pilihanku..itu harus jadi tanggungjawabku yang pada suatu ketika harus ku kembalikan semua padaMU
Robb sungguh..tiada dapat terungkap rasa syukur atas segala pemberianMu yang senantiasa indah..senantiasa menyejukkan dan semakin membuatku mencintai Mu..meski dengan cara paling sederhanaku..maafkan aku..ampuni aku yang lemah terbatas ini..yang tanpa sadar lalai mensyukuri dan senantiasa berlebih lebih dalam urusan yang harusnya dibatasi..
semoga Kau akhirkan aku dengan akhir yang baik..Kau jauhkan dari malu di dunia dan adzab di akhirat
Kuatkan kami umat muslim ya Alloh..tegakkan dien ini di dada kami..di atas bumi ini
Sunday, July 08, 2007
BREAK TIME
a month passed by
Tanggal 6 July alhamdulillah ku berada di rumah kembali, menikmati hari bersama whole family. Wisata ke Jurug..ketawa ketiwi meski diiringi sakit gigi hehehe..gigi numbuh aja ternyata bisa jadi penyakit serius.
Sebulan berlalu di Kota Garut..dan waktu 27 hari terasa begitu panjang seolah aku sudah berada di sana berbulan bulan lamanya. Apakah karena aku menikmati suasana disana atau justru sebaliknya?
Berbagai bentuk dan warna terekspresi..bersama kepolosan anak anak kecil, wajah penuh harap masyarakat pinggiran, senyum penuh makna para aparat pemerintahan, dinamika teman-teman 1 tim dan semua terkenang indah.
Kota dengan 82 gunung (seperti yang terecord dalam peta daerah tentunya..kali aja masih lebih dari itu jumlah realnya) menjadikan Garut sebuah daerah yang kokoh (seharusnya). Slogan Garut adalah..GARUT BANGKIT GARUT BERPRESTASI..so nice isn't it. Sebuah moto hidup yang penuh optimisme, semangat serta cita cita tinggi...tapi............................
Sebulan kucoba menggali. Tentang sebuah potret realita kehidupan dari sisi lain seperti yang biasa kulihat.
Kota yang memang agak nyempil ini membawaku pada sebuah kesadaran bahwa dalam kehidupan ada banyak sekali kepentingan. ada yang sadar betul akan kepentingannya dan ada yang sama sekali tak ambil pusing dengan apa yang dilakukannya..sekedar enjoy aja satu dua diantaranya..ada yang benar benar berprinsip asal aku bisa makan hari ini, ada yang penuh intrik saling jegal kanan kiri untuk menyambungkan eksistensi. Demo versus Bapak Bupati Garut tanggal 4 Juli 2007 kemaren menjadi salah satu refleksi..bahwa slogan Garut telah bergeser...GARUT BANGKRUT GARUT DIKORUPSI.
Berlebihan gak ya??
Tapi dari fakta yang kasat mata demikianlah adanya.
Kota ini sebenarnya adalah kota yang sarat dengan potensi sumber daya alam maupun manusia.
Saat gunung-gunung mengitarinya hal tersebut sebenarnya sudah cukup mengindikasikan betapa ia punya kekokohan luar biasa. Mulai dari Potensi Sumber Gas Alam yang sudah jadi pembangkit listrik tenaga panas bumi, sumber pemandian air panas, sumber mata air, sumber pertanian, sumber produk holtikultura, sumber ketan hitam, dan yang terpenting sumber pesantren dan santri-santrinya tentu saja. Tapi kemana itu semua?? kemana larinya mereka??
Dari interview dengan Pak Deden (salah satu ulama di Kp. Pasir Kawao, Sukaresmi) 75 % potensi Cevron (PLTPB Garut) lari ke pihak swasta yang notabene pihak asing..hanya 25 % ke Pemda dan hanya sebagian yang sangat kecil dari jumlah itu yang lari ke kecamatan lokal tempat PLTPB itu berada. Di sisi lain..Daerah Samarang..salah satu pemasok air bersih ke kota dan daerah sekitar (selain kec. Bayongbong) mengalami kendala serius dengan sanitasi dan air bersih. So..how could that be? Sang pemasok air justru dehidrasi akan air bersih. Sebenarnya air memang melimpah disana tapi tiada pengelolaan..tiada kepekaan. banyak Balong (kolam) hanya dikelola sedemikian sederhana. Ikan ikan hanya dikembangkan secara tradisional. Bahkan warganya menganggap ikan tetap sebagai komoditi tak terbeli..bahkan asin yang hanya 1500 per ons di warung sudah tak tejangkau oleh kocek beberapa warga pribumi.
Kemiskinan melanda tak hanya di sisi itu.
Lokasi Garut memang nyempil. Semakin nyempil saat tak ada atau hanya sedikit ada perhatian dari pemerintah daerah untuk memperbaiki sarana fisik daerah terutama jalanan daerahnya. Satu-satunya jalan berhotmix bagus (cukup bagus) hanyalah jalan utama Bandung Tasik..itupun masih banyak lubang disana sini. Apalagi di bagaian pedalaman..totally jalan ampyang yang saat kami harus survey ke salah satu kecamatan (Sukaresmi) harus mengorbankan Ban serta Rem motor kami. Naik kuda pokoknya.
Potensi daerahpun akhirnya terkotakkan. tak banyak dimanfaatkan. Kebanyakan warganya lebih suka pergi merantau ke beberapa daerah di dekatnya seberti Bandunga tau Tasik bahkan ke Sumatra, Kalimantan atau beberapa lokasi lain. Sedangkan penduduk yang tersisa tak banyak yang sudi atau berdikari untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai tingkat tinggi..masih banyak yang tak lulus SD jangankan sampai kebayang perguruan tinggi.
Tapi aku tetap cinta Garut..aku sukai sejuk udaranya..kepolosan warganya..meski para wanitanya kadang masih lebih memprioritaskan dandan daripada pendidikan diri dan anak-anaknya. But at least di kota yang cukup agamis ini aku temukan suatu ketenangan.
Mereka begitu menghormati para guru dan ulama. Mereka tersenyum manis dan menghormati para tamu yang mendatanginya. Mereka masih punya harap untuk bangkit, untuk lebih baik, dan berprestasi. Mereka masih gigih ke sekolah yang jaraknya kadang begitu jauh, licin tanpa aspal untuk berusaha menjadi lebih baik. Beberapa, walau harus dibatasi fasilitas, dukungan dan ijin orang tua tak gentar berangkat dengan berjalan berkilo-kilo untuk mendidik diri mereka.
Kadang aku malu dengan dedikasi para guru dan tenaga kesehatan disana yang rela dengan gaji kecilnya untuk memberikan pelayanan kepada warga. Memang oknum tetap ada di mana-mana saat hati kecil mereka tak mereka indahkan. Tapi senyum manis mereka, bahasa santunnya, memberiku semangat untuk tetap menikmati hidup yang indah ini sebagai pemberian dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Kuingat nasehat sang Bapak di kereta terakhir kali menjelang detik detik aku turun kemarin.
Bahwa keberadaan kita di dunia hanya mampir..bahwa Alloh lebih dekat dari urat leher..lalu dimanakah?? Terus saja cari..dengan hati..Hidup ini perjalananmu..Jangan jadi orang yang pinter..tapi jadilah orang yang mengerti..Temukan dirimu..temukan arti syahadatmu..temukan arti Bismillahirrahmanirrahiim..maka kau akan temukan hidupmu..Kasihilah dan Sayangilah..hanya itu dan kau kan bahagia..seutuhnya.
Kusimpan Garut di dalam dada. Dalam relung terdalam sebagai suatu pelajaran indah
Semoga esok hari di Tasik kan banyak makna baru yang lebih baik. Semoga tim kami kan lebih solid..hati hati kami saling terkait dan jauh dari konflik. Semoga aku dan teman temanku kan lebih dewasa memaknai ini semua. Bisa memberikan sumbangsih..yang walaupun tak besar namun bisa mengungkap sebuah kebenaran dari kehidupan singkat ini.
Ijinkan kami tuk senantiasa mengagungkanMU
bersyukur padaMu
bersimpuh memohon ampunanMu
menjadikan diri kami jundiMu yang terus dan terus berjuang menujuMU
Tanggal 6 July alhamdulillah ku berada di rumah kembali, menikmati hari bersama whole family. Wisata ke Jurug..ketawa ketiwi meski diiringi sakit gigi hehehe..gigi numbuh aja ternyata bisa jadi penyakit serius.
Sebulan berlalu di Kota Garut..dan waktu 27 hari terasa begitu panjang seolah aku sudah berada di sana berbulan bulan lamanya. Apakah karena aku menikmati suasana disana atau justru sebaliknya?
Berbagai bentuk dan warna terekspresi..bersama kepolosan anak anak kecil, wajah penuh harap masyarakat pinggiran, senyum penuh makna para aparat pemerintahan, dinamika teman-teman 1 tim dan semua terkenang indah.
Kota dengan 82 gunung (seperti yang terecord dalam peta daerah tentunya..kali aja masih lebih dari itu jumlah realnya) menjadikan Garut sebuah daerah yang kokoh (seharusnya). Slogan Garut adalah..GARUT BANGKIT GARUT BERPRESTASI..so nice isn't it. Sebuah moto hidup yang penuh optimisme, semangat serta cita cita tinggi...tapi............................
Sebulan kucoba menggali. Tentang sebuah potret realita kehidupan dari sisi lain seperti yang biasa kulihat.
Kota yang memang agak nyempil ini membawaku pada sebuah kesadaran bahwa dalam kehidupan ada banyak sekali kepentingan. ada yang sadar betul akan kepentingannya dan ada yang sama sekali tak ambil pusing dengan apa yang dilakukannya..sekedar enjoy aja satu dua diantaranya..ada yang benar benar berprinsip asal aku bisa makan hari ini, ada yang penuh intrik saling jegal kanan kiri untuk menyambungkan eksistensi. Demo versus Bapak Bupati Garut tanggal 4 Juli 2007 kemaren menjadi salah satu refleksi..bahwa slogan Garut telah bergeser...GARUT BANGKRUT GARUT DIKORUPSI.
Berlebihan gak ya??
Tapi dari fakta yang kasat mata demikianlah adanya.
Kota ini sebenarnya adalah kota yang sarat dengan potensi sumber daya alam maupun manusia.
Saat gunung-gunung mengitarinya hal tersebut sebenarnya sudah cukup mengindikasikan betapa ia punya kekokohan luar biasa. Mulai dari Potensi Sumber Gas Alam yang sudah jadi pembangkit listrik tenaga panas bumi, sumber pemandian air panas, sumber mata air, sumber pertanian, sumber produk holtikultura, sumber ketan hitam, dan yang terpenting sumber pesantren dan santri-santrinya tentu saja. Tapi kemana itu semua?? kemana larinya mereka??
Dari interview dengan Pak Deden (salah satu ulama di Kp. Pasir Kawao, Sukaresmi) 75 % potensi Cevron (PLTPB Garut) lari ke pihak swasta yang notabene pihak asing..hanya 25 % ke Pemda dan hanya sebagian yang sangat kecil dari jumlah itu yang lari ke kecamatan lokal tempat PLTPB itu berada. Di sisi lain..Daerah Samarang..salah satu pemasok air bersih ke kota dan daerah sekitar (selain kec. Bayongbong) mengalami kendala serius dengan sanitasi dan air bersih. So..how could that be? Sang pemasok air justru dehidrasi akan air bersih. Sebenarnya air memang melimpah disana tapi tiada pengelolaan..tiada kepekaan. banyak Balong (kolam) hanya dikelola sedemikian sederhana. Ikan ikan hanya dikembangkan secara tradisional. Bahkan warganya menganggap ikan tetap sebagai komoditi tak terbeli..bahkan asin yang hanya 1500 per ons di warung sudah tak tejangkau oleh kocek beberapa warga pribumi.
Kemiskinan melanda tak hanya di sisi itu.
Lokasi Garut memang nyempil. Semakin nyempil saat tak ada atau hanya sedikit ada perhatian dari pemerintah daerah untuk memperbaiki sarana fisik daerah terutama jalanan daerahnya. Satu-satunya jalan berhotmix bagus (cukup bagus) hanyalah jalan utama Bandung Tasik..itupun masih banyak lubang disana sini. Apalagi di bagaian pedalaman..totally jalan ampyang yang saat kami harus survey ke salah satu kecamatan (Sukaresmi) harus mengorbankan Ban serta Rem motor kami. Naik kuda pokoknya.
Potensi daerahpun akhirnya terkotakkan. tak banyak dimanfaatkan. Kebanyakan warganya lebih suka pergi merantau ke beberapa daerah di dekatnya seberti Bandunga tau Tasik bahkan ke Sumatra, Kalimantan atau beberapa lokasi lain. Sedangkan penduduk yang tersisa tak banyak yang sudi atau berdikari untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai tingkat tinggi..masih banyak yang tak lulus SD jangankan sampai kebayang perguruan tinggi.
Tapi aku tetap cinta Garut..aku sukai sejuk udaranya..kepolosan warganya..meski para wanitanya kadang masih lebih memprioritaskan dandan daripada pendidikan diri dan anak-anaknya. But at least di kota yang cukup agamis ini aku temukan suatu ketenangan.
Mereka begitu menghormati para guru dan ulama. Mereka tersenyum manis dan menghormati para tamu yang mendatanginya. Mereka masih punya harap untuk bangkit, untuk lebih baik, dan berprestasi. Mereka masih gigih ke sekolah yang jaraknya kadang begitu jauh, licin tanpa aspal untuk berusaha menjadi lebih baik. Beberapa, walau harus dibatasi fasilitas, dukungan dan ijin orang tua tak gentar berangkat dengan berjalan berkilo-kilo untuk mendidik diri mereka.
Kadang aku malu dengan dedikasi para guru dan tenaga kesehatan disana yang rela dengan gaji kecilnya untuk memberikan pelayanan kepada warga. Memang oknum tetap ada di mana-mana saat hati kecil mereka tak mereka indahkan. Tapi senyum manis mereka, bahasa santunnya, memberiku semangat untuk tetap menikmati hidup yang indah ini sebagai pemberian dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Kuingat nasehat sang Bapak di kereta terakhir kali menjelang detik detik aku turun kemarin.
Bahwa keberadaan kita di dunia hanya mampir..bahwa Alloh lebih dekat dari urat leher..lalu dimanakah?? Terus saja cari..dengan hati..Hidup ini perjalananmu..Jangan jadi orang yang pinter..tapi jadilah orang yang mengerti..Temukan dirimu..temukan arti syahadatmu..temukan arti Bismillahirrahmanirrahiim..maka kau akan temukan hidupmu..Kasihilah dan Sayangilah..hanya itu dan kau kan bahagia..seutuhnya.
Kusimpan Garut di dalam dada. Dalam relung terdalam sebagai suatu pelajaran indah
Semoga esok hari di Tasik kan banyak makna baru yang lebih baik. Semoga tim kami kan lebih solid..hati hati kami saling terkait dan jauh dari konflik. Semoga aku dan teman temanku kan lebih dewasa memaknai ini semua. Bisa memberikan sumbangsih..yang walaupun tak besar namun bisa mengungkap sebuah kebenaran dari kehidupan singkat ini.
Ijinkan kami tuk senantiasa mengagungkanMU
bersyukur padaMu
bersimpuh memohon ampunanMu
menjadikan diri kami jundiMu yang terus dan terus berjuang menujuMU
Subscribe to:
Posts (Atom)
